Kritik Terhadap Pemberitaan Republika Soal Iran

Media-media dunia, termasuk Indonesia, hingga kini, masih mengangkat isu-isu yang berhubungan dengan Iran. Hari ini, Situs Koran Republika mengangkat masalah penggantungan dua warga Iran.

Koran Republika dengan melaporkan, Iran telah menghukum gantung dua anggota kelompok gerilyawan Sunni di sebuah penjara Sabtu karena pembunuhan dan serangan di sebuah tempat di Iran tenggara yang bergolak. Dalam pemberitaan tersebut, Koran Republika menyebut Kantor Berita Iran, IRNA, sebagai sumber berita tersebut.Pemberitaan sinis tentang Iran akhir-akhir ini, terus menjadi santapan media-media dunia, termasuk Indonesia. Akan tetapi sangat disayangkan, bila pemberitaan sinis juga muncul dari sebuah koran muslim seperti Republika. Terlebih, Koran Republika dalam laporan penggantungan dua warga Iran, menyebut mereka sebagai dua anggota kelompok gerilyawan Sunni. Padahal penyebutan istilah Sunni tidak dikutip dalam pemberitaan Kantor Berita IRNA. Dalam laporannya, Kantor Berita IRNA menyebutkan, Pengadilan Sistan-Balochistan menyatakan bahwa dua anggota kelompok teroris Abdul Malik Rigi dieksekusi di sekitar penjara Zahedan dengan tudingan mohareb atau melakukan perang terhadap Allah Swt dan efsad fil ard atau pengrusakan di muka bumi. Kantor Berita dalam laporannya menyebutkan bahwa kedua teroris tersebut berupaya menyelundupkan narkotika ke negara ini.

Koran Republika yang disebut-sebut sebagai media muslim, sangat disayangkan melaporkan berita yang bernuansa mengadu domba. Pada prinsipnya, kelompok teroris tidak mengenal madzhab dan agama. Dua anggota kelompok teroris Abdul Malik Rigi tidak sepatutnya disebut sebagai kelompok yang dikaitkan dengan madzhab dan agama tertentu. Agama apapun menolak aksi kekerasan dan terorisme. Untuk itu, media-media tidak sepatutnya melakukan aksi provokasi yang mengaitkan aksi terorisme dan tindakan kriminal dengan sebuah madzhab dan agama.

Kelompok teroris Jundullah dipimpin oleh Abdul Malik Rigi. Untuk mengetahui sosok Abdul Malik Rigi, Abdul Hamid Rigi, saudara gembong teroris Abdul Malik Rigi di hadapan para wartawan di Zahedan mengatakan, saudaranya, Abdul Malik Rigi, menjadi anggota kelompok teroris sejak umur 12 tahun. Pada awalnya, Abdul Malik Rigi bergabung dengan kelompok teroris yang dipimpin oleh Maolabakhs Derakhshan, bahkan ia selama beberapa tahun menjadi pelaksana instruksi aksi terorisme di wilayah Sistan-Balochistan, Afghanistan dan Pakistan. Menurut Abdul Hamid Rigi, saudaranya yang melakukan berbagai pertemuan dengan AS, menerima fasilitas dan uang dalam jumlah besar dari AS. Dikatakannya, Abdul Malik Rigi dalam satu pertemuan dengan pejabat AS, menerima 100 ribu dolar dan berbagai fasilitas seperti satelit komunikasi.

Dengan demikian, kelompok Jundullah yang berhubungan dengan Abdul Malik Rigi, adalah kelompok teroris yang melakukan pengrusakan atau efsad fil ard di kawasan. Segala sesuatu yang berhubunga dengan tindakan teroris tidak sepatutnya dikaitkan dengan sebuah agama dan madzhab.

Dalam bagian beritanya, Koran Republika kembali menekankan, Iran yang dominan Muslim Syiah mengatakan Jundullah merupakan bagian dari jaringan al Qaida Islam Sunni dan didukung oleh AS, musuh lama Iran. Lebih lanjut Koran Republika menambahkan, Jundullah mengatakan mereka berperang untuk hak-hak minoritas Sunni di republik Islam itu.

Pemberitaan Koran Republika begitu menekankan status Sunni yang diimbuhkan pada jaringan Al-Qaida dan dikaitkan dengan pernyataan Iran sebagai dominan muslim Syiah. Ungkapan-ungkapan yang dilaporkan Situs Koran Republika sangatlah tendensius, bahkan cenderung mengadu domba. Koran Republika yang disebut-sebut media muslim sudah sepatutnya menghindari laporan-laporan tendensius yang mengundang fitnah. Menghubungkan kelompok teroris dengan sebuah madzhab dan agama sama halnya dengan mendukung propaganda Barat yang tengah memecah-belah ummat Islam. Untuk itu, sangatlah disayangkan bahwa Koran Republika yang disebut-sebut sebagai media muslim, bukan menghadapi propaganda Barat, tapi malah terjebak dalam jeratannya. Di Iran, kelompok Sunni sama sekali tidak diperlakukan secara diskriminatif. Bahkan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, mempunyai penasehat khusus urusan Ahlus Sunnah dari kalangan ulama Sunni. Ini membuktikan bahwa Iran tetap memikirkan nasib warga Sunni di negara ini.

Kemarin, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam acara pertemuan dengan para peserta lomba Al-Qur’an Al-Karim tingkat internasional ‎ke-26 menyebut pengamalan ajaran Al-Qur’an sebagai kunci kemuliaan, kemajuan, ‎keagungan dan persatuan umat Islam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung upaya musuh-musuh Islam dan Al-Qur’an ‎dalam menyerang persatuan Islam dan menciptakan sikap saling curiga di tengah umat ‎Muslim. Beliau menandaskan, “Dengan berbagai cara dan tipu daya, musuh mengesankan diri ‎tidak memiliki permusuhan dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang sama mereka menentang ‎poros dan bimbingan ajaran Al-Qur’an, yang salah satunya adalah pesan persatuan.”‎

Menurut Rahbar, persatuan adalah hal yang urgen bagi bangsa Iran. Ditegaskannya, “Makna persatuan dan ‎berpegang teguh pada tali Allah adalah mengikat hati semaksimal mungkin dalam masalah ‎prinsip. Perbedaan pandangan terkait hal-hal yang bersifat parsial tidak akan menghalangi ‎persatuan.”

‎Lebih lanjut Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengimbau semua pihak untuk berhati-hati dalam ‎mengucapkan kata-kata dan menghindari segala hal yang dapat menyulut perselisihan. Dikatakannya, “Semua pihak harus bekerjasama dalam suasana persaudaraan untuk ‎bersama-sama membangun negara.”‎

Dalam kesempatan tersebut, Rahbar menyeru semua pihak supaya mengedepankan prinsip obyektifitas dan keadilan dalam ‎bertindak dan bertutur kata. Seraya menyebutkan firman suci Ilahi dalam Al-Qur’an yang ‎memerintahkan agar bersikap obyektif dan adil bahkan dalam memperlakukan musuh, ‎Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengatakan, “Di Republik Islam Iran, mereka yang ‎mengumumkan loyalitas kepada prinsip, dapat hidup berdampingan meski berbeda ‎pandangan.”‎

Menurut beliau, perbedaan pandangan adalah hal wajar yang ada pada setiap periode. Dikatakannya, “Jika ‎tercemar oleh hawa nafsu, perbedaan pandangan ini akan menjadi buruk. Karena itu harus ‎diperhatikan kapan perbedaan pandangan itu tercampur dengan hawa nafsu dan kapan ‎muncul karena rasa tanggung jawab akan kewajiban.”

Penekanan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei yang disampaikan kemarin dalam pertemuan dengan para peserta Musabaqah Tilawatil Quran, sudah sepatutnya menjadi acuan bersama untuk tetap menjaga persatuan dan menghadapi propaganda musuh yang berupaya memecah-belah ummat. Media yang saat ini berada di front terdepan, harus menjalankan tugasnya dengan baik, bukan malah menyiram bensin ke bara api.(Indonesian Radio)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: