Ayatullah Al-Udzma Wahid Khorasani, Fatwa yang menyadarkan

Ayatollah Al-Udzma Wahid Khorasani dalam sebuah fatwanya menyerukan para penganut madzhab Syiah untuk memperlakukan Ahlussunnah layaknya saudaranya yang seiman.

Tersebarnya fatwa yang merupakan jawaban atas sebuah pertanyaan syar’i ini menunjukkan pandangan jauh beliau dalam menyikapi soal persatuan di tengah umat Islam. Fatwa itu memuat satu tugas yang mesti dilakukan oleh pengikut madzhab Ahlul Bait terhadap saudaranya yang seagama dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah.

Di bawah ini adalah teks pertanyaan yang diajukan kepada Ayatollah Al-Udzma Wahid Khorasani disusul dengan jawaban beliau;

Soal: Dengan Nama Allah. Kami adalah sekelompok orang -penganut madzhab Syiah- dan tinggal di sebuah lingkungan dengan sebagian penduduknya dari kalangan Ahlussunnah. Mereka menganggap kami kafir dan mengatakan bahwa kaum Syiah adalah orang-orang kafir. Dalam kondisi seperti ini, apakah kami dapat memperlakukan mereka seperti mereka memperlakukan kami, dan sebagaimana mereka menganggap kami kafir kami juga menganggap mereka kafir dan memperlakukan mereka layaknya orang kafir? Kami mohon penjelasan akan tugas syar’i kami dalam menghadapi serangan seperti ini.

Jawaban dari Ayatollah Wahid Khorasani:

Bismillahir Rahmanir Rahim. Siapa saja yang bersaksi akan keesaan Allah SWT dan bersaksi akan risalah kenabian Nabi Terakhir [Muhammad] SAW maka dia muslim. Jiwa, kehormatan dan hartanya terhormat dan harus dilindungi sama seperti jiwa, kehormatan dan harta orang yang mengikuti madzhab Ja’fari. Kewajiban syar’i kalian adalah berlaku baik dan penuh rasa hormat terhadap siapa saja yang mengucapkan dua kalimat syahadat, meskipun mereka menganggap kalian kafir. Jika mereka memperlakukan kalian dengan tidak benar, jangan sampai kalian menyimpang dari keadilan dan jalan yang lurus. Jika ada orang diantara mereka yang sakit, pergilah kalian membezuk dan menjenguknya. Jika ada diantara mereka yang meninggal dunia ikutlah kalian dalam melayatnya. Jika ada dari mereka yang memiliki hajat dan keperluan kepada kalian maka penuhilah hajatnya. Pasrahlah kalian kepada firmah Allah:

« ولايجرمنكم شنئان قوم علي الاتعدلوا اعدلواهواقرب للتقوي »

‘Jangan sampai keingkaran suatu kaum menjadikan kalian tidak berbuat adil. Berlaku adillah, [sebab] ia lebih dekat kepada ketaqwaan.’

Laksanakanlah perintah Allah SWT:

« ولاتقولوا لمن القي اليكم السلام لست مومنا »

“Dan jangan sekali-kali kalian katakan kepada orang yang mengucapkan salam kepada kalian, ‘engkau bukan mukmin’.”

Wassalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Dari fatwa marji dan ulama besar Syiah ini ada beberapa poin penting, yang salah satunya dan yang terpenting adalah isyarat beliau kepada ajaran Al-Qur’an dan hadis yang menunjukkan spirit utama Islam. Dalam ajaran ini, masalah persatuan umat Islam sangat ditekankan, sekaligus juga diingatkan bahwa perpecahan dan perselisihan di antara umat hanya akan membuat mereka gagal, kalah dan terjebak dalam kesulitan.

Poin penting kedua adalah bahwa fatwa ini menunjukkan kebijakan, kesadaran dan ketanggapan para ulama dan marji Syiah terhadap situasi dan kondisi umat Islam. Mereka menaruh perhatian yang besar kepada nasib umat Muslimin. Dalam menghadapi makar dan tipu daya musuh-musuh dunia yang secara luas berupaya menebar perselisihan, perseteruan dan perpecahan di antara umat Islam penganut berbagai madzhab Islam, para ulama ini menunjukkan sikap yang bertentangan dengan kemauan musuh. Jawaban dan fatwa seperti ini ibarat air sejuk yang memadamkan api fitnah yang disulut oleh musuh-musuh umat Islam. Ayatollah Al-Udzma Wahid Khorasani melalui fatwanya telah menyingkirkan benih-benih perpecahan Syiah Sunni yang ditebar oleh musuh. Fatwa ini menunjukkan kesadaran dan sikap bijaksana dari beliau yang patut dihargai oleh kita semua. Dan memang demikianlah ulama dan peran mereka di tengah umat.

Poin ketiga dalam fatwa ini adalah pengumuman akan kesadaran itu secara transparan dan jelas. Langkah ulama besar dan marji Syiah ini didasari oleh keberanian beliau yang seiring dengan ketaqwaan dalam membela eksistensi Islam dan umat Islam. Makna keberanian ini hanya bisa difahami oleh mereka yang menyaksikan dan menyadari dengan benar adanya makar dan tipu daya besar-besaran dari musuh Islam untuk memecah belah kaum muslimin. Dalam menjalankan agendanya, musuh didukung oleh segala sarana dan fasilitas yang dimilikinya. Konspirasi dan agenda jahat musuh ini dijalankan melalui dua front sekaligus, yakni front internal dan front external. Di sini media massa dan sarana informasi modern memainkan peran yang penting ditambah dengan berbagai trik dan cara-cara yang baru. Semua itu dilakukan oleh musuh dengan memanfaatkan satu hal lagi, yaitu keterbelakangan dan ketertinggalan sebagian umat Islam yang tidak memahami dengan baik kandungan ajaran agama yang mereka anut. Dengan adanya konspirasi tersebut, dunia Islam telah mengalami kerugian dan merasakan pukulan yang menyakitkan. Akan tetapi, sikap para pemimpin dan pemuka agama Islam yang menyingkap adanya makar musuh terhadap Islam dan kaum muslimin sedikit banyak berhasil membela Islam dari keterpukulan. Sikap positif, fatwa konstruktif dan imbauan yang menyadarkan dari para ulama dan marji akan mengagalkan semua konspirasi musuh.

Poin keempat yang bisa dipetik dari fatwa Ayatollah Al-Udzma Wahid Khorasani tadi adalah terbit dan tersiarnya soal dan jawab yang memuat fatwa itu tepat di saat sekelompok orang dari kaum Salafi (Wahhabi) membuat fatwa yang mengharamkan umat Islam menjual rumah dan tanah kepada Muslim Syiah. Fatwa-fatwa kaum ekstrim Wahhabi itu hanya menyenangkan pihak imperialis yang memusuhi Islam, sebab lewat fatwa-fatwa seperti iutlah mereka dapat menjalankan agenda imperialisme dalam menebar perpecahan dan perselisihan di tengah umat Islam. Apalagi umat ini tengah menantikan pelaksanaan ibadah haji di tanah suci. Amat disayangkan, ada sebagian orang Islam yang menerima dan memegangi fatwa-fatwa berbau fitnah itu lalu menyebarkan slogan-slogan yang menghukumi Syiah sebagai kafir. Tindakan itu sengaja mereka lakukan untuk memancing reaksi dari para ulama Syiah. Sebab dengan adanya reaksi keras dari kubu Syiah, perpecahan antara dua kelompok besar Muslim, yakni Syiah dan Sunni, akan terwujud. Hal inilah yang diinginkan oleh kaum imperialis. Namun, tepat di masa-masa seperti ini, Ayatollah Al-Udzma Wahid Khorasani dalam fatwanya menyeru para penganut Syiah untuk merekatkan tali persaudaraan dengan Muslim Sunni, seraya mengajak semua pihak untuk meneladani semangat persaudaraan yang ada di tengah kaum muslimin di awal sejarah Islam. Sebab, memang itulah yang dipesankan oleh Al-Qur’an Al-Karim. Sikap dan fatwa ulama besar Syiah ini berperan besar dalam memadamkan api fitnah yang disulut oleh kelompok ekstrim Salafi.

Poin terakhir yang dapat disimpulkan dari fatwa tersebut adalah pesan penting yang dibawa dan selalu didengungkan oleh revolusi Islam Iran. Imam Khomeini r.a yang memimpin revolusi agung Islam di Iran menaruh perhatian yang luar biasa kepada masalah persatuan umat Islam. Dalam banyak fatwanya yang berkenaan dengan berbagai masalah, Imam Khomeini menekankan soal persatuan Islam. Jalan dan sikap tersebut dilanjutkan oleh penerus beliau, Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei. Para marji dan ulama besar Syiah yang lain juga menekankan soal persatuan Islam dan dalam praktiknya mereka juga mengamalkan prinsip persatuan tersebut. Singkatnya, semua pihak bertanggung jawab untuk menyampaikan seruan persatuan Islam dan melangkah ke arah mewujudkan persatuan ini.


Yayasan Aalulbayt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: